Saturday, April 19, 2014

AL-IBTILA' (Bahagian 3)


Ibtila’ terhadap seluruh hamba Allah

Ujian di atas muka bumi Allah ini bukan sekadar kepada Nabi Allah bahkan kepada seluruh hamba-Nya. Hal ini kerana merujuk kepada satu ayat Al-Quran:       

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
{Dan Kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang yang bersabar}[1]

Perkara ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan itu sebenarnya perkara umum yang pasti menimpa manusia. Setiap manusia waima kaya dan miskin, waima tua dan muda pasti akan merasai ujian ini. Inilah yang dikatakan fitrah kehidupan. Cuma, apa yang berbezanya adalah tahap ujian yang menimpa seseorang. Lagi tinggi tingkatan imannya maka lagi tinggi ujian yang perlu ditempuhnya. Ini berdasarkan kepada ayat Al-Quran berikut:


أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cubaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.[2]

Manusia tidak hanya cukup mengatakan iman di mulut, kemudian menjadi orang yang terdekat dengan Allah sebelum mengalami ujian terlebih dahulu. Sebagai sunatullah, Allah menguji orang-orang terdahulu dengan beban-beban dan sebagai macam ujian untuk menguji kadar iman mereka. 

Ayat yang lain adalah seperti berikut:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Demi sesungguhnya, kamu akan diuji pada harta benda dan diri kamu. Dan demi sesungguhnya, kamu akan mendengar dari orang-orang yang telah diberikan Kitab dahulu daripada kamu dan orang-orang yang musyrik: banyak (tuduhan-tuduhan dan cacian) yang menyakitkan hati. Dalam pada itu, jika kamu bersabar dan bertaqwa maka sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara-perkara yang dikehendaki diambil berat (melakukannya).[3]

Ibnul Jauzi berkata, “Sebesar apa pun musibah yang datang menimpa, hal itu masih belum sebanding dengan dosa yang telah mereka kerjakan”.

Dengan meyakini bahwa semua itu adalah dari Allah semata maka seorang mukmin akan mengembalikan semua urusannya kembali kepada Allah, disertai keyakinan bahawa di dalamnya pasti terkandung hikmah dan pelajaran. Seorang mukmin tidak akan menjadi tekanan dengan adanya musibah yang menimpanya. Sebaliknya redha menerima segalanya.



Sabar dalam Ujian

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ
 وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.[4]

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahawa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahawa yang baik itu solat menghadap ke barat, sedang kaum Nasara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas. [5]




[1] Surah Al-Baqarah: 155
[2] Surah Al-Baqarah: 214
[3] Surah Ali-Imran: 186
[4] Surah Al-Baqarah: 177
[5] (Diriwayatkan oleh Abdur-razzaq dari Ma'mar, yang bersumber dari Qatadah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil 'Aliyah.)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...